Ukhuwah dan Indahnya Awal Hijrah

So Which Blessings of Your Lord Will You Deny~?

One afternoon in the mid of 2006-2007…

Saat itu saya tengah menghadiri majlis Ustadz Yazid Jawas di Masjid Al Furqon DDII, Kramat Raya, Senen. Ustadz mengumumkan bahwa kajian libur untuk beberapa saat, tepatnya beberapa bulan. Kurang lebih beliau berucap seperti ini:

View original post 644 more words

Advertisements

Privasi, Hidup Tanpa Rahasia dan Diary Bergembok

So Which Blessings of Your Lord Will You Deny~?

2017 baru saja berlalu. Banyak hal-hal penting yang terjadi dalam lembar kehidupan saya. Banyak hal-hal besar dan kecil yang memiliki tempat spesial di hati saya. Banyak pula pelajaran hidup yang saya dapatkan, baik yang saya alami sendiri, maupun saya amati dari pengalaman orang lain. Salah satu di antaranya adalah soal menjaga privacy.

To be honest, bagi saya privacy itu segalanya. Saya nggak bisa membayangkan hidup tanpa privacy dan kebebasan untuk jadi diri sendiri. Being in the spotlight is totally exhausting. Apa-apa jadi sorotan, bahkan sampai hal yang paling sepele pun tak luput jadi bahan pembicaraan.

View original post 1,108 more words

[Pengasuhan (Tarbiyah)]

Sudah merupakan fitrah bahwa manusia sejak lahir sudah merupakan makhluk sosial yang membutuhkan orang lain. Dan pengasuhan ini wajib diberikan oleh orangtua kepada anak, apabila tidak diberikan maka akibatnya akan fatal. Hal ini yang akan menentukan kehidupan anak berlabuh pada dermaga kehidupan yang baik atau buruk melalui tarbiyah dari orangtua pada anak.

Anak perlu diberikan pengasuhan atau yang biasa disebut dengan “hadhonah” agar :
1. Menjaga anak agar bisa tetap hidup dari segala yang membahayakan : Hal ini merupakan misi syari’at yaitu perlindungan terhadap nyawa. Nalar seseorang saja tidak bisa menerima jika ada bayi yang dibuang oleh orangtua apalagi dari sisi syari’at tentu tidaklah diperbolehkan.
2. Merawat anak terhadap dirinya seperti memandikan, mencuci tangan, mencuci bajunya, menidurkan, dan segala bentuk perawatan diri lainnya.
3. Anak mendapatkan pendidikan tentang Allaah Subhanahu wa ta’ala, Rasulullaah shallaahu ‘alaihi wa sallam, agama islam, tentang kerabatnya dan lain-lain.

Tugas seseorang setelah melahirkan adalah musibah (cobaan/ujian) , jangan berbangga sebelum lulus dari cobaan ini. Dan orangtua yang lulus dari cobaan ini akan mendapatkan pahala yang besar. Tanggung jawab ini tidak boleh disia-siakan.

Bagi orangtua yang sudah memiliki anak, sadarlah bahwa penjagaan Allaah adalah LEBIH BESAR
Bersyukurlah karena Allaah Maha Mengetahui dan Maha Mampu membuat orang memiliki anak bahkan Allaah juga menjadikan orang tidak memiliki anak. Hikmahnya adalah semua orang memiliki jatah “SYUKUR” masing-masing.

Cinta pada anak adalah fitrah manusia. Kalau ada yang melawan fitrah, maka hal ini sudah di luar batas. contohnya adalah ada orangtua yang berzia dengan anaknya (Na’udzubillaah) hal ini sudah di luar batas. Maka, jagalah anak dan berikanlah pengasuhan dan pendidikan yang baik agar anak tumbuh menjadi pribadi yang shalih dan memiliki akhlaq yang baik karena anak merupakan investasi akhirat dan bisa menjadi amal jariyah untuk orangtua.

@Masjid Alumni IPB , Baranansiang
Ustadz Yassir, Lc. 
2 Desember 2017, 13 Rabi'ul Awwal 1439 H

Hanya 3 Hari

Saudaraku tercinta..

Jika engkau berfikir, sesungguhnya dunia itu hanya tiga hari, satu hari berlalu yang tidak bisa engkau harapkan, kemudian hari ini yang harus dimanfaatkan dengan baik dan esok hari dimana engkau tidak tahu apakah engkau masih ada. Engkau tidak tahu barangkali engkau mati sebelum waktu itu datang, karena itu, dapatkanlah akhirat dalam kehidupanmu di dunia, karena dunia hanyalah apa yang ada di depanmu. Janganlah engkau menimbun harta untuk jiwamu, janganlah engkau melepaskan jiwa terhadap apa yang akan engkau tinggalkan, akan tetapi berbekallah untuk sebuah perjalanan jauh yang penuh dengan kesulitan.” (Hilyatul Auliyaa’ (II/138)

Jadilah engkau sebagai orang yang mencintai dunia karena terpaksa dan selalu mengingat urusanmu sebagai sebuah pelajaran, usahakanlah kebahagiaan untuk hari akhir dengan segera, dan jadilah engkau seperti orang yang ada dalam perjalanan, karena hantaman kematian akan datang pada suatu hari yang tidak akan diperkirakan (Adabud Dunyaa wad Diin)

Al Hasan rahimahullah berkata, “Janganlah kalian sibuk dengan urusan dunia, karena dunia ini sangatlah menyibukkan. Tidaklah seseorang membukakan satu pintu kesibukan untuk dirinya, melainkan akan terbuka baginya sepuluh pintu kesibukan lainnya.” (Hilyatul Auliyaa’ (II/154)

Pemilik dunia adalah orang yang diagungkan oleh yang lainnya -walaupun dia sering meninggalkan shalat- dan yang diluaskan kepadanya majelis. Marilah kita lihat apa yang diungkapkan oleh Al Hasan rahimahullah. Jika pemilik dunia disebutkan kepadanya, beliau berkata, “Demi Allah, tidak ada yang tersisa baginya dan bagi dunia, dia tidak selamat dari kejelekan dunia, pengikutnya dan perhitungannya, bahkan dia telah dikeluarkan darinya hanya dengan potongan kain.” (Hilyatul Auliyaa’ (II/144)

zuhud-dunia

Diambil dari buku Dunia Kesenangan yang Semu, Abdul Malik bin Muhammad Al Qasim

Alkhoir, Khoirotullah

Rasanya, beberapa tahun lalu membuatku tenggelam dalam lautan “keinginan-keinginan” yang ranahnya hanya dunia yang begitu “tak berharganya” dibandingkan akhirat,
jadi teringat dua tahun lalu, tak bisa ku elak, namun bisa kujadikan pelajaran, bahwa kerja keras yang tak diridhoi akan menghasilkan ketidakridhoan pula

Daan, kusadari, hari ini saat berpijak untuk mencoba jalan lain, jalan yang bukan lagi alasan pembenaran, namun nyata kebenarannya, membuatku lebih berpikir berkali-kali untuk terjun “kembali” pada ranah itu

Aku butuh itu, butuh petikan-petikan nasehat dikala pikiran-pikiran “menginginkan yang tak tersampaikan” muncul kembali, padahal sejatinya “itu” bukanlah hal yang harus diraih

Allahul musta’an

Seringkali dan seringkali pikiran ini berakar pada muara yang tak sampai pada tujuan, padahal sejatinya pikiran lurus dan sesuai syari’at adalah dermaga yang harus dituju

Aku akui, begitu lemahnya diri yang seharusnya ku bersandar pada Yang Maha Kuat dan Yang Maha Besar
Aku akui, begitu ujubnya diri yang tak seharusnya ku miliki,
Aku akui, sungguh diri ini yang berlumur dosa dan fakir ilmu
dan Aku akui, betapa Allah Subhanahu Wa Ta’ala adalah Maha Penerima Taubat

Saat ini, aku semakin mantap dan yakin
yang lalu tidak perlu ku tangisi hingga terlalu larut,
karena Allah Maha Penerima Taubat,

Setiap manusia memiliki masa lalu baik kelam, bahagia, bahkan menyeramkan,
Namun, aku memilih untuk bangkit, tak ingin terpuruk pada keadaan yang menjibaku

Karena aku percaya dan yakin,
Allah tidak akan pernah mendzalimi hamaba-Nya sedikitpun, tidak akan pernah

Allah sudah berikan yang terbaik untuk hamba-Nya, ada hikmah yang implisit maupun eksplisit yang Allah berikan pada setiap larangan dan perintah-Nya

Alkhoir, khoirotullah…
(yang terbaik, adalah pilihan Allah Subhanahu Wa Ta’ala)

Renungan Pagi untuk Diri,
Bahwa jangan kita berputus asa dari Rahmat Allah Subhanahu Wa Ta’ala

Awan Cerah dikala Musim Pancaroba tiba,
2 Maret 2017
Dramaga, Bogor

Masa Lalumu, Tak Patut untuk Dikenang Kembali

Bismillah…

Masa lalu memiliki definisi baik atau buruk. Hal ini berdasarkan pengalaman masing-masing insan, namun tak pelaklah kita ketika masa lalu kita yang begitu jauh dari kata “syar’i” masih terus kita kenang,

Memiliki masa lalu yang buruk dan sadar akan jauhnya kita dari sentuhan nilai agama membuat seseorang merasa “kurang percaya diri” akan bangkitnya “ia” menjadi pribadi yang lebih baik

Padahal, Allah Subhanuha ta’ala berfirman dalam Kitab-Nya yang mulia,

قُلْ يٰعِبَادِيَ الَّذِيْنَ اَسْرَفُوْا عَلٰٓى اَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوْا مِنْ رَّحْمَةِ اللّٰهِ ؕ اِنَّ اللّٰهَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ جَمِيْعًا ؕ اِنَّهٗ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
وَاَنِيْبُوْۤا اِلٰى رَبِّكُمْ وَاَسْلِمُوْا لَهٗ

“Katakanlah, “Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang.” Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu dan berserah dirilah kepada-Nya
(QS. Az-Zumar: Ayat 53-54)

kuncinya adalah SATU
“Bertaubat dengan sebenar-benar Taubat”
Meyakinkan dalam hati untuk tidak menyentuh bahkan melakukan perbuatan tersebut.

Taubat dapat menghapus segala dosa, seperti yang telah dijelaskan dalam Ayat di atas, bahwa kita disuruh untuk tidak berputus asa akan Rahmat Allah, Allah Maha Pemaaf dan akan memaafkan orang yang benar-benar bertaubat kepada-Nya.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menjelaskan bahwa ayat di atas dimaksudkan untuk larangan berputus asa dari rahmat Allah Ta’ala, meskipun seseorang telah banyak melakukan dosa, dan juga tidak boleh membuat orang lain putus asa dari rahmat-Nya. Oleh karena itu, sebagian Salaf berkata “orang yang memiliki pemahaman yang benar adalah yang tidak membuat putus asa orang lain dari rahmat Allah dan tidak menyuruh mereka bermaksiat kepada Allah” (Tazkiyatun Nafs hal. 146 )

Selanjutnya, dalam bukunya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan “mengenai taubat adalah sebuah kedudukan yang dicapai oleh seorang hamba dari awal ia melakukannya hingga akhir umurnya. Semua makhluk diwajibkan bertaubat dan membiasakan bertaubat”
Allah berfirman dalam Surah Al-Ahzab : 73

اللّٰهُ عَلَى الْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنٰتِ ؕ وَكَانَ اللّٰهُ غَفُوْرًا رَّحِيْمًا
“sehingga Allah akan mengazab orang-orang munafik laki-laki dan perempuan, orang-orang musyrik laki-laki dan perempuan; dan Allah akan menerima tobat orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.”

Maka, bertaubatlah kita selamanya.
karena kitapun tidak mengetahui, dosa dan taubat yang mana yang Allah ampuni.

masa lalu yang kelam, yang dihimpit rasa penyesalan mendalam,
adalah buah dari kesadaran-kesadaran
melalui sebuah pencarian

bersyukurlah bagi kita, yang nafas masih bisa kita hirup
langkah kaki masih bisa kita dera,
tangan yang masih bisa menengadah untuk memohon ampunan-Nya

Jangan pernah merasa sendiri,
akupun memiliki masa lalu yang juga menghampiri
bukan hanya masa lalu,
hari ini pun juga tak terlepas dari dosa,
maka seperti perkataan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah bahwa bertaubat adalah SELAMANYA

bukan hanya untuk masa lalu , tapi juga hari ini

Terakhir, Nasehat Indah dari Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah
“Sesungguhnya manusia itu terkadang menyadari akan dosa yang ia lakukan lalu ia bertaubat, baik bertaubat dari kesalahan tertentu atau bertaubat dari segala dosa yang telah diperbuatnya. Namun, orang yang hanya bertaubat dari kesalahan tertentu dan tidak pada kesalahan yang lainnya, maka yang diampuni hanyalah kesalahan apa yang ia mohonkan. Namun, jika ia memohon atas segala dosa yang ia lakukan meskipun tidak merincinya satu persatu dan bertaubat dengan sebenar-benar taubat, maka dengan izin Allah, ia akan diampuni
(Tazkiyatun Nafs, hal 163)

Semoga Allah Subhanahuwa Ta’ala mengampuni segala dosa-dosa kita,
Menempatkan kita di dalam Surga bersama Rasulullah dan Sahabat-Sahabat beliau,
Sungguh indah dan mulianya.

Dalam teriknya matahari di kota hujan, 3 Rabi'ul Akhir 1438 H

PicsArt_01-02-02.33.03.jpg

Kamu Salafiy?

PicsArt_12-28-03.36.35.jpgsebenernya kalau ditanya apakah ana “salafy”?

menurut ana pribadi, masih sangaaat jauuh sekali jika ana pribadi dibilang adalah seorang salafy, dimana, salafy itu adalah orang2 terdahulu seperti tabi’in, tabi’ut tabi’in yang memang mengikuti Qur’an Dan Sunnah,

Menurut al-Qalsyani: “Salafush Shalih adalah generasi pertama dari ummat ini yang pemahaman ilmunya sangat dalam, yang mengikuti petunjuk Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menjaga Sunnahnya. Allah memilih mereka untuk menemani Nabi-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallamdan menegak-kan agama-Nya…”

Sumber: https://almanhaj.or.id/3428-definisi-salaf-definisi-ahlus-sunnah-wal-jamaah.html

rasa-rasa nya kalau di samakan dengan mereka masiiih sangaat jauh sekali, tapi yang perlu dicatat adalah kita untuk TERUS mengikuti jejak-jejak para salafus shalih , meskipun kita tak bisa seperti mereka yang sudah dijamin surga oleh Allah, dan juga rasanya ketika ditanya “kamu salaf?” berat sekali untuk mengatakan “iya” karena minimnya ilmu dan binaan yang sangaat jauuh, namun mengikutinya adalah sebuah kewajiban, sebagaimana sabda Rasulullah
” ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata:

خَطَّ لَنَا رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَطًّا بِيَدِهِ ثُمَّ قَالَ: هَذَا سَبِيْلُ اللهِ مُسْتَقِيْمًا وَخَطَّ خُطُوْطًا عَنْ يَمِيْنِهِ وَشِمَالِهِ، ثُمَّ قَالَ: هَذِهِ سُبُلٌ (مُتَفَرِّقَةٌ) لَيْسَ مِنْهَا سَبِيْلٌ إِلاَّ عَلَيْهِ شَيْطَانٌ يَدْعُوْ إِلَيْهِ، ثُمَّ قَرَأَ قَوْلَهُ تَعَالَى

“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam membuat garis dengan tangannya kemudian bersabda: ‘Ini jalan Allah yang lurus.’ Lalu beliau membuat garis-garis di kanan kirinya, kemudian bersabda: ‘Ini adalah jalan-jalan yang bercerai-berai (sesat) tak satu pun dari jalan-jalan ini kecuali di dalamnya terdapat syaitan yang menyeru kepadanya.’ Selanjutnya beliau membaca firman Allah Jalla wa ’Ala: ‘Dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, janganlah kalian mengikuti jalan-jalan (yang lain) karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan oleh Allah kepadamu agar kamu bertaqwa.’” [Al-An’aam: 153][6]

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قاَلَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِيْ ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ ثُمَّ يَجِئُ قَوْمٌ تَسْبِقُ شَهَادَةُ أَحَدِهِمْ يَمِيْنَهُ، وَيَمِيْنُهُ شَهَادَتَهُ.

“Sebaik-baik manusia adalah pada masaku ini (yaitu masa para Shahabat), kemudian yang sesudahnya, kemudian yang sesudahnya. Setelah itu akan datang suatu kaum yang persaksian salah seorang dari mereka men-dahului sumpahnya dan sumpahnya mendahului persaksiannya.” [7]

Sumber: https://almanhaj.or.id/1276-kewajiban-ittiba-mengikuti-jejak-salafush-shalih-dan-menetapkan-manhajnya.html

Namun, perlu diketahui pula, bahwa menisbatkan diri sebagai “salafy” bukanlah aib,
para ulama banyak membahas masalah ini.
Penisbatan kata Salaf atau as-Salafiyyuun bukanlah termasuk perkara bid’ah, akan tetapi penisbatan ini adalah penisbatan yang syar’i karena menisbatkan diri kepada generasi pertama dari ummat ini, yaitu para Sahabat, Tabi’in dan Tabi’ut Tabi’in.

Ahlus Sunnah wal Jama’ah dikatakan juga as-Salafiyyuun karena mereka mengikuti manhaj Salafush Shalih dari Sahabat dan Tabi’ut Tabi’in. Kemudian setiap orang yang mengikuti jejak mereka serta berjalan berdasarkan manhaj mereka -di sepanjang masa-, mereka ini disebut Salafi, karena dinisbatkan kepada Salaf. Salaf bukan kelompok atau golongan seperti yang difahami oleh sebagian orang, tetapi merupakan manhaj (sistem hidup dalam ber-‘aqidah, beribadah, berhukum, berakhlak dan yang lainnya) yang wajib diikuti oleh setiap Muslim. Jadi, pengertian Salaf dinisbatkan kepada orang yang menjaga keselamatan ‘aqidah dan manhaj menurut apa yang dilaksanakan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para Sahabat Radhiyallahu anhum sebelum terjadinya perselisihan dan perpecahan.[6]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah (wafat th. 728 H)[7] berkata: “Bukanlah merupakan aib bagi orang yang menampakkan manhaj Salaf dan menisbatkan dirinya kepada Salaf, bahkan wajib menerima yang demikian itu karena manhaj Salaf tidak lain kecuali kebenaran.” [8]

Sumber: https://almanhaj.or.id/3428-definisi-salaf-definisi-ahlus-sunnah-wal-jamaah.html

dari situ kita ketahui bahwa mengikuti Rasulullah adalah wajib bukan hanya dilisan,bukan menambah-nambah kan ibadah sesuai tuntutan zaman, akan tetapi merupakan sebuah dasar prinsip islam yang dengannya kita harus Ikhlas dan Ittiba’ (mencontoh Rasulullah-pent)

kemudian, jika ditanya, lalu bagaimana kamu berdakwah? bagaimana pula kamu berdakwah dengan mengikuti metode Rasulullah?

dakwah Rasulullah yang pertama adalah menyerukan “tauhid” , tidak memaksa, tidak memiliki tujuan untuk mencipta kader, tidak untuk tujuan politik dan golongan, tapi murni untuk memurnikan Aqidah,

Dakwah sunnah ini juga tidak ada tanggal terbentuknya manhaj kecuali saat Al-Qur’an pertama kali turun dan diwahyukan kepada Rasulullah,
tidak ada pemimpin manhaj kecuali Beliau adalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam panutan segala ummat yang Allah berikan keistimewaan kepada beliau untuk menyempurnakan agama terdahulu dan menyempurnakan akhlak,

jika ditanya mengapa ada orang yg mengaku ittiba’ kepada rasulullah namun ia msih ttap mengikuti firqah-firqah lain, masih menggampang-gampangkan sunnah dll, meskipun secara dzahir ia mengikuti rasulullah,

salah satu nasehat teman serta juga ustadz-ustadz yang memiliki kapasitas ilmu yang mumpuni dalam Agama mengatakan bahwa janganlah menilai islam yang sudah sempurna, namun itu adalah oknum-oknum yang sebagian menyimpang dan ini kembali lagi pada diri masing-masing, mau tetap mengikuti Rasulullah dengan sebaik-baik panutan ataukah mencipta ibadah dan hal-hal baru tanpa landasan ilmu yang haq.
jika ditanya bagaimana kita sekarang berdakwah?
kita coba untuk terus mengingatkan selama tidak keluar dari koridor syari’at,
HIDAYAH ITU MILIK ALLAH, MURNI MILIK ALLAH

sehingga, tugas kita hanya mengingatkan, tidak memaksa,tidak mencoba berbohong untuk perhatian demi langgengnya dakwah, tapi murni perhatian karena menjaga ukhuwah,

jika ditanya, bagaimana akhwat dan ikhwan berdakwah?
dewasa ini banyak sekali akhwat-akhwat yang memang mengaku sunnah namun msih belum bisa menjaga pandangan, berdakwah lewat sosial media namun teman-teman nya msih banyak para lelaki ajnabi (bukan mahrom)
ini juga menjadi bahan renungan untuk ana, bahwa dakwah sunnah alhamdulillah sudah banyak menebar melalui medsos namun jangan kita terperdaya dan terlena, maka sebelum kita melangkah untuk berdakwah hendaklah kita mengetahui akar nya,

hendaklah kita kembali ke majlis-majlis ilmu bersama asatidz yang ahli dibidangnya,bukan seorang yg awam lalu menjelma menjadi murobbi/pengajar yang padahal sama-sama butuh untuk datang ke majlis-majlis ilmu,

berilmu sebelum beramal, lalu baru kita mendakwahkannya.

In syaa Allah dengan mengambil ilmu dari para asatidz yang sudah dalam ilmunya dan sesuai syari’at mengikuti para salafus shalih kita tidak akan trsesat.

Wallahu waliyut taufiq, Allahul Musta’an

semoga Allah berikan kita keistiqomahan dalam mencari dan menuntut ilmu, dipermudah dalam mengamalkan dan mendakwahkannya,

Dakwah yg paling kita utamakan adalah keluarga, karena Rasulullah berdakwah pertama kali adalah kepada keluarga beliau shallallahu ‘alaihi wa sallan

Allahu a’lam

Jakarta, 28 Rabi'ul Awwal 1438 H