Hanya 3 Hari

Saudaraku tercinta..

Jika engkau berfikir, sesungguhnya dunia itu hanya tiga hari, satu hari berlalu yang tidak bisa engkau harapkan, kemudian hari ini yang harus dimanfaatkan dengan baik dan esok hari dimana engkau tidak tahu apakah engkau masih ada. Engkau tidak tahu barangkali engkau mati sebelum waktu itu datang, karena itu, dapatkanlah akhirat dalam kehidupanmu di dunia, karena dunia hanyalah apa yang ada di depanmu. Janganlah engkau menimbun harta untuk jiwamu, janganlah engkau melepaskan jiwa terhadap apa yang akan engkau tinggalkan, akan tetapi berbekallah untuk sebuah perjalanan jauh yang penuh dengan kesulitan.” (Hilyatul Auliyaa’ (II/138)

Jadilah engkau sebagai orang yang mencintai dunia karena terpaksa dan selalu mengingat urusanmu sebagai sebuah pelajaran, usahakanlah kebahagiaan untuk hari akhir dengan segera, dan jadilah engkau seperti orang yang ada dalam perjalanan, karena hantaman kematian akan datang pada suatu hari yang tidak akan diperkirakan (Adabud Dunyaa wad Diin)

Al Hasan rahimahullah berkata, “Janganlah kalian sibuk dengan urusan dunia, karena dunia ini sangatlah menyibukkan. Tidaklah seseorang membukakan satu pintu kesibukan untuk dirinya, melainkan akan terbuka baginya sepuluh pintu kesibukan lainnya.” (Hilyatul Auliyaa’ (II/154)

Pemilik dunia adalah orang yang diagungkan oleh yang lainnya -walaupun dia sering meninggalkan shalat- dan yang diluaskan kepadanya majelis. Marilah kita lihat apa yang diungkapkan oleh Al Hasan rahimahullah. Jika pemilik dunia disebutkan kepadanya, beliau berkata, “Demi Allah, tidak ada yang tersisa baginya dan bagi dunia, dia tidak selamat dari kejelekan dunia, pengikutnya dan perhitungannya, bahkan dia telah dikeluarkan darinya hanya dengan potongan kain.” (Hilyatul Auliyaa’ (II/144)

zuhud-dunia

Diambil dari buku Dunia Kesenangan yang Semu, Abdul Malik bin Muhammad Al Qasim

Alkhoir, Khoirotullah

Rasanya, beberapa tahun lalu membuatku tenggelam dalam lautan “keinginan-keinginan” yang ranahnya hanya dunia yang begitu “tak berharganya” dibandingkan akhirat,
jadi teringat dua tahun lalu, tak bisa ku elak, namun bisa kujadikan pelajaran, bahwa kerja keras yang tak diridhoi akan menghasilkan ketidakridhoan pula

Daan, kusadari, hari ini saat berpijak untuk mencoba jalan lain, jalan yang bukan lagi alasan pembenaran, namun nyata kebenarannya, membuatku lebih berpikir berkali-kali untuk terjun “kembali” pada ranah itu

Aku butuh itu, butuh petikan-petikan nasehat dikala pikiran-pikiran “menginginkan yang tak tersampaikan” muncul kembali, padahal sejatinya “itu” bukanlah hal yang harus diraih

Allahul musta’an

Seringkali dan seringkali pikiran ini berakar pada muara yang tak sampai pada tujuan, padahal sejatinya pikiran lurus dan sesuai syari’at adalah dermaga yang harus dituju

Aku akui, begitu lemahnya diri yang seharusnya ku bersandar pada Yang Maha Kuat dan Yang Maha Besar
Aku akui, begitu ujubnya diri yang tak seharusnya ku miliki,
Aku akui, sungguh diri ini yang berlumur dosa dan fakir ilmu
dan Aku akui, betapa Allah Subhanahu Wa Ta’ala adalah Maha Penerima Taubat

Saat ini, aku semakin mantap dan yakin
yang lalu tidak perlu ku tangisi hingga terlalu larut,
karena Allah Maha Penerima Taubat,

Setiap manusia memiliki masa lalu baik kelam, bahagia, bahkan menyeramkan,
Namun, aku memilih untuk bangkit, tak ingin terpuruk pada keadaan yang menjibaku

Karena aku percaya dan yakin,
Allah tidak akan pernah mendzalimi hamaba-Nya sedikitpun, tidak akan pernah

Allah sudah berikan yang terbaik untuk hamba-Nya, ada hikmah yang implisit maupun eksplisit yang Allah berikan pada setiap larangan dan perintah-Nya

Alkhoir, khoirotullah…
(yang terbaik, adalah pilihan Allah Subhanahu Wa Ta’ala)

Renungan Pagi untuk Diri,
Bahwa jangan kita berputus asa dari Rahmat Allah Subhanahu Wa Ta’ala

Awan Cerah dikala Musim Pancaroba tiba,
2 Maret 2017
Dramaga, Bogor

Masa Lalumu, Tak Patut untuk Dikenang Kembali

Bismillah…

Masa lalu memiliki definisi baik atau buruk. Hal ini berdasarkan pengalaman masing-masing insan, namun tak pelaklah kita ketika masa lalu kita yang begitu jauh dari kata “syar’i” masih terus kita kenang,

Memiliki masa lalu yang buruk dan sadar akan jauhnya kita dari sentuhan nilai agama membuat seseorang merasa “kurang percaya diri” akan bangkitnya “ia” menjadi pribadi yang lebih baik

Padahal, Allah Subhanuha ta’ala berfirman dalam Kitab-Nya yang mulia,

قُلْ يٰعِبَادِيَ الَّذِيْنَ اَسْرَفُوْا عَلٰٓى اَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوْا مِنْ رَّحْمَةِ اللّٰهِ ؕ اِنَّ اللّٰهَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ جَمِيْعًا ؕ اِنَّهٗ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
وَاَنِيْبُوْۤا اِلٰى رَبِّكُمْ وَاَسْلِمُوْا لَهٗ

“Katakanlah, “Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang.” Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu dan berserah dirilah kepada-Nya
(QS. Az-Zumar: Ayat 53-54)

kuncinya adalah SATU
“Bertaubat dengan sebenar-benar Taubat”
Meyakinkan dalam hati untuk tidak menyentuh bahkan melakukan perbuatan tersebut.

Taubat dapat menghapus segala dosa, seperti yang telah dijelaskan dalam Ayat di atas, bahwa kita disuruh untuk tidak berputus asa akan Rahmat Allah, Allah Maha Pemaaf dan akan memaafkan orang yang benar-benar bertaubat kepada-Nya.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menjelaskan bahwa ayat di atas dimaksudkan untuk larangan berputus asa dari rahmat Allah Ta’ala, meskipun seseorang telah banyak melakukan dosa, dan juga tidak boleh membuat orang lain putus asa dari rahmat-Nya. Oleh karena itu, sebagian Salaf berkata “orang yang memiliki pemahaman yang benar adalah yang tidak membuat putus asa orang lain dari rahmat Allah dan tidak menyuruh mereka bermaksiat kepada Allah” (Tazkiyatun Nafs hal. 146 )

Selanjutnya, dalam bukunya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan “mengenai taubat adalah sebuah kedudukan yang dicapai oleh seorang hamba dari awal ia melakukannya hingga akhir umurnya. Semua makhluk diwajibkan bertaubat dan membiasakan bertaubat”
Allah berfirman dalam Surah Al-Ahzab : 73

اللّٰهُ عَلَى الْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنٰتِ ؕ وَكَانَ اللّٰهُ غَفُوْرًا رَّحِيْمًا
“sehingga Allah akan mengazab orang-orang munafik laki-laki dan perempuan, orang-orang musyrik laki-laki dan perempuan; dan Allah akan menerima tobat orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.”

Maka, bertaubatlah kita selamanya.
karena kitapun tidak mengetahui, dosa dan taubat yang mana yang Allah ampuni.

masa lalu yang kelam, yang dihimpit rasa penyesalan mendalam,
adalah buah dari kesadaran-kesadaran
melalui sebuah pencarian

bersyukurlah bagi kita, yang nafas masih bisa kita hirup
langkah kaki masih bisa kita dera,
tangan yang masih bisa menengadah untuk memohon ampunan-Nya

Jangan pernah merasa sendiri,
akupun memiliki masa lalu yang juga menghampiri
bukan hanya masa lalu,
hari ini pun juga tak terlepas dari dosa,
maka seperti perkataan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah bahwa bertaubat adalah SELAMANYA

bukan hanya untuk masa lalu , tapi juga hari ini

Terakhir, Nasehat Indah dari Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah
“Sesungguhnya manusia itu terkadang menyadari akan dosa yang ia lakukan lalu ia bertaubat, baik bertaubat dari kesalahan tertentu atau bertaubat dari segala dosa yang telah diperbuatnya. Namun, orang yang hanya bertaubat dari kesalahan tertentu dan tidak pada kesalahan yang lainnya, maka yang diampuni hanyalah kesalahan apa yang ia mohonkan. Namun, jika ia memohon atas segala dosa yang ia lakukan meskipun tidak merincinya satu persatu dan bertaubat dengan sebenar-benar taubat, maka dengan izin Allah, ia akan diampuni
(Tazkiyatun Nafs, hal 163)

Semoga Allah Subhanahuwa Ta’ala mengampuni segala dosa-dosa kita,
Menempatkan kita di dalam Surga bersama Rasulullah dan Sahabat-Sahabat beliau,
Sungguh indah dan mulianya.

Dalam teriknya matahari di kota hujan, 3 Rabi'ul Akhir 1438 H

PicsArt_01-02-02.33.03.jpg

Kamu Salafiy?

PicsArt_12-28-03.36.35.jpgsebenernya kalau ditanya apakah ana “salafy”?

menurut ana pribadi, masih sangaaat jauuh sekali jika ana pribadi dibilang adalah seorang salafy, dimana, salafy itu adalah orang2 terdahulu seperti tabi’in, tabi’ut tabi’in yang memang mengikuti Qur’an Dan Sunnah,

Menurut al-Qalsyani: “Salafush Shalih adalah generasi pertama dari ummat ini yang pemahaman ilmunya sangat dalam, yang mengikuti petunjuk Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menjaga Sunnahnya. Allah memilih mereka untuk menemani Nabi-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallamdan menegak-kan agama-Nya…”

Sumber: https://almanhaj.or.id/3428-definisi-salaf-definisi-ahlus-sunnah-wal-jamaah.html

rasa-rasa nya kalau di samakan dengan mereka masiiih sangaat jauh sekali, tapi yang perlu dicatat adalah kita untuk TERUS mengikuti jejak-jejak para salafus shalih , meskipun kita tak bisa seperti mereka yang sudah dijamin surga oleh Allah, dan juga rasanya ketika ditanya “kamu salaf?” berat sekali untuk mengatakan “iya” karena minimnya ilmu dan binaan yang sangaat jauuh, namun mengikutinya adalah sebuah kewajiban, sebagaimana sabda Rasulullah
” ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata:

خَطَّ لَنَا رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَطًّا بِيَدِهِ ثُمَّ قَالَ: هَذَا سَبِيْلُ اللهِ مُسْتَقِيْمًا وَخَطَّ خُطُوْطًا عَنْ يَمِيْنِهِ وَشِمَالِهِ، ثُمَّ قَالَ: هَذِهِ سُبُلٌ (مُتَفَرِّقَةٌ) لَيْسَ مِنْهَا سَبِيْلٌ إِلاَّ عَلَيْهِ شَيْطَانٌ يَدْعُوْ إِلَيْهِ، ثُمَّ قَرَأَ قَوْلَهُ تَعَالَى

“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam membuat garis dengan tangannya kemudian bersabda: ‘Ini jalan Allah yang lurus.’ Lalu beliau membuat garis-garis di kanan kirinya, kemudian bersabda: ‘Ini adalah jalan-jalan yang bercerai-berai (sesat) tak satu pun dari jalan-jalan ini kecuali di dalamnya terdapat syaitan yang menyeru kepadanya.’ Selanjutnya beliau membaca firman Allah Jalla wa ’Ala: ‘Dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, janganlah kalian mengikuti jalan-jalan (yang lain) karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan oleh Allah kepadamu agar kamu bertaqwa.’” [Al-An’aam: 153][6]

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قاَلَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِيْ ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ ثُمَّ يَجِئُ قَوْمٌ تَسْبِقُ شَهَادَةُ أَحَدِهِمْ يَمِيْنَهُ، وَيَمِيْنُهُ شَهَادَتَهُ.

“Sebaik-baik manusia adalah pada masaku ini (yaitu masa para Shahabat), kemudian yang sesudahnya, kemudian yang sesudahnya. Setelah itu akan datang suatu kaum yang persaksian salah seorang dari mereka men-dahului sumpahnya dan sumpahnya mendahului persaksiannya.” [7]

Sumber: https://almanhaj.or.id/1276-kewajiban-ittiba-mengikuti-jejak-salafush-shalih-dan-menetapkan-manhajnya.html

Namun, perlu diketahui pula, bahwa menisbatkan diri sebagai “salafy” bukanlah aib,
para ulama banyak membahas masalah ini.
Penisbatan kata Salaf atau as-Salafiyyuun bukanlah termasuk perkara bid’ah, akan tetapi penisbatan ini adalah penisbatan yang syar’i karena menisbatkan diri kepada generasi pertama dari ummat ini, yaitu para Sahabat, Tabi’in dan Tabi’ut Tabi’in.

Ahlus Sunnah wal Jama’ah dikatakan juga as-Salafiyyuun karena mereka mengikuti manhaj Salafush Shalih dari Sahabat dan Tabi’ut Tabi’in. Kemudian setiap orang yang mengikuti jejak mereka serta berjalan berdasarkan manhaj mereka -di sepanjang masa-, mereka ini disebut Salafi, karena dinisbatkan kepada Salaf. Salaf bukan kelompok atau golongan seperti yang difahami oleh sebagian orang, tetapi merupakan manhaj (sistem hidup dalam ber-‘aqidah, beribadah, berhukum, berakhlak dan yang lainnya) yang wajib diikuti oleh setiap Muslim. Jadi, pengertian Salaf dinisbatkan kepada orang yang menjaga keselamatan ‘aqidah dan manhaj menurut apa yang dilaksanakan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para Sahabat Radhiyallahu anhum sebelum terjadinya perselisihan dan perpecahan.[6]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah (wafat th. 728 H)[7] berkata: “Bukanlah merupakan aib bagi orang yang menampakkan manhaj Salaf dan menisbatkan dirinya kepada Salaf, bahkan wajib menerima yang demikian itu karena manhaj Salaf tidak lain kecuali kebenaran.” [8]

Sumber: https://almanhaj.or.id/3428-definisi-salaf-definisi-ahlus-sunnah-wal-jamaah.html

dari situ kita ketahui bahwa mengikuti Rasulullah adalah wajib bukan hanya dilisan,bukan menambah-nambah kan ibadah sesuai tuntutan zaman, akan tetapi merupakan sebuah dasar prinsip islam yang dengannya kita harus Ikhlas dan Ittiba’ (mencontoh Rasulullah-pent)

kemudian, jika ditanya, lalu bagaimana kamu berdakwah? bagaimana pula kamu berdakwah dengan mengikuti metode Rasulullah?

dakwah Rasulullah yang pertama adalah menyerukan “tauhid” , tidak memaksa, tidak memiliki tujuan untuk mencipta kader, tidak untuk tujuan politik dan golongan, tapi murni untuk memurnikan Aqidah,

Dakwah sunnah ini juga tidak ada tanggal terbentuknya manhaj kecuali saat Al-Qur’an pertama kali turun dan diwahyukan kepada Rasulullah,
tidak ada pemimpin manhaj kecuali Beliau adalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam panutan segala ummat yang Allah berikan keistimewaan kepada beliau untuk menyempurnakan agama terdahulu dan menyempurnakan akhlak,

jika ditanya mengapa ada orang yg mengaku ittiba’ kepada rasulullah namun ia msih ttap mengikuti firqah-firqah lain, masih menggampang-gampangkan sunnah dll, meskipun secara dzahir ia mengikuti rasulullah,

salah satu nasehat teman serta juga ustadz-ustadz yang memiliki kapasitas ilmu yang mumpuni dalam Agama mengatakan bahwa janganlah menilai islam yang sudah sempurna, namun itu adalah oknum-oknum yang sebagian menyimpang dan ini kembali lagi pada diri masing-masing, mau tetap mengikuti Rasulullah dengan sebaik-baik panutan ataukah mencipta ibadah dan hal-hal baru tanpa landasan ilmu yang haq.
jika ditanya bagaimana kita sekarang berdakwah?
kita coba untuk terus mengingatkan selama tidak keluar dari koridor syari’at,
HIDAYAH ITU MILIK ALLAH, MURNI MILIK ALLAH

sehingga, tugas kita hanya mengingatkan, tidak memaksa,tidak mencoba berbohong untuk perhatian demi langgengnya dakwah, tapi murni perhatian karena menjaga ukhuwah,

jika ditanya, bagaimana akhwat dan ikhwan berdakwah?
dewasa ini banyak sekali akhwat-akhwat yang memang mengaku sunnah namun msih belum bisa menjaga pandangan, berdakwah lewat sosial media namun teman-teman nya msih banyak para lelaki ajnabi (bukan mahrom)
ini juga menjadi bahan renungan untuk ana, bahwa dakwah sunnah alhamdulillah sudah banyak menebar melalui medsos namun jangan kita terperdaya dan terlena, maka sebelum kita melangkah untuk berdakwah hendaklah kita mengetahui akar nya,

hendaklah kita kembali ke majlis-majlis ilmu bersama asatidz yang ahli dibidangnya,bukan seorang yg awam lalu menjelma menjadi murobbi/pengajar yang padahal sama-sama butuh untuk datang ke majlis-majlis ilmu,

berilmu sebelum beramal, lalu baru kita mendakwahkannya.

In syaa Allah dengan mengambil ilmu dari para asatidz yang sudah dalam ilmunya dan sesuai syari’at mengikuti para salafus shalih kita tidak akan trsesat.

Wallahu waliyut taufiq, Allahul Musta’an

semoga Allah berikan kita keistiqomahan dalam mencari dan menuntut ilmu, dipermudah dalam mengamalkan dan mendakwahkannya,

Dakwah yg paling kita utamakan adalah keluarga, karena Rasulullah berdakwah pertama kali adalah kepada keluarga beliau shallallahu ‘alaihi wa sallan

Allahu a’lam

Jakarta, 28 Rabi'ul Awwal 1438 H


PACARAN ADALAH PINTU MENUJU KEMAKSIATAN

wahai ukhti, tidakkah kita berpikir?

bahwa

PACARAN membawa kita ke dalam lubang maksiat ? tidakkah kita berpikir “sepanas Apa Api neraka itu?”
tidakkah kita memikirkan kejelasan perintah yang tertulis dalam Al-Qur’an ?

وَلاَ تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلاً

“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan seburuk-buruk jalan”. (Al Isra’ [17] : 32).

masihkah kita mau pacaran??
bagi yang tidak setuju mungkin akan berkata “semua punya dosa, jangan sok suci lah, kalau ngga dengan pacaran bagaimana kita tau pasangan kita nanti?”

ukhti, islam adalah agama yang sempurna, mengatur segalanya sampai pada sendi-sendi kehidupan ini. Islam juga mengatur terkait hal “perasaan suka kepada lawan jenis”
itu adalah fitrah, islam mengajarkan untuk MENIKAH agar terhindar dari zina, islam juga mengatur adab dan tata cara dalam pernikahan, tidak ada pacaran, tidak berdua-duaan , tidak saling menelpon dan chatting, tapi islam mengajarkan Ta’aruf, Nazhor, Khitbah dan Pernikahan. sehingga, orang yang mengatakan Pacaran adalah jalan untuk saling mengenal itu Adalah SALAH BESAR.

Lalu terbesit dalam pikiran, kalau begitu Pacaran Islami saja?

wahai saudariku, bagaimana mungkin ada pacaran islami? sedangkan Rasulullah saja tidak pernah melakukannya,
ingat firman Allah

أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ

“Katakanlah kepada laki – laki yang beriman :”Hendaklah mereka menundukkan pandangannya dan memelihara kemaluannya.” (QS. An Nuur [24] : 30 )

Dalam lanjutan ayat ini, Allah juga berfirman,

وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ

“Katakanlah kepada wanita-wanita yang beriman : “Hendaklah mereka menundukkan pandangannya, dan kemaluannya” (QS. An Nuur [24] : 31)

Sumber : https://rumaysho.com/165-cinta-bukanlah-disalurkan-lewat-pacaran.html
Islam itu Indah saudariku, Apalagi dengan mengikuti Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam

Mari Hidupkan sunnah, Jauhi Zina. Tidak Bisa? maka segeralah menikah, atau Berpuasalah sebagaimana hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dari Ibnu Abbas, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَمْ نَرَ لِلْمُتَحَابَّيْنِ مِثْلَ النِّكَاحِ

“Kami tidak pernah mengetahui solusi untuk dua orang yang saling mencintai semisal pernikahan.” (HR. Ibnu Majah no. 1920. Dikatakan shohih oleh Syaikh Al Albani)

Kalau belum mampu menikah, tahanlah diri dengan berpuasa. Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنِ اسْتَطَاعَ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ ، فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ ، وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ ، فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ

“Barangsiapa yang mampu untuk menikah, maka menikahlah. Karena itu lebih akan menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan. Barangsiapa yang belum mampu, maka berpuasalah karena puasa itu bagaikan kebiri.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Sumber : https://rumaysho.com/165-cinta-bukanlah-disalurkan-lewat-pacaran.html

Marilah kita memperbaiki diri terlebih dahulu, percayalah ukhti, Allah berfirman

لِلطَّيِّبِينَ وَالطَّيِّبُونَ لِلطَّيِّبَاتِ

“Wanita-wanita yang keji untuk laki-laki yang keji. Dan laki-laki yang keji untuk wanita-wanita yang keji pula. Wanita-wanita yang baik untuk laki-laki yang baik. Dan laki-laki yang baik untuk wanita-wanita yang baik pula.” (QS. An Nur: 26)

laki-laki yang baik akan datang bukan untuk menjalin pacaran, tapi laki-laki yang baik adalah yang datang langsung pada orangtua kita, mengajak menikah dalam naungan syari’at. Pun demikian dengan wanita yang baik, tidak akan mau didatangi oleh laki-laki yang mengajaknya untuk berpacaran.

Maka Renungkanlah..

mari mulai hidupkan Sunnah, datangi majlis-majlis Ilmi Syar’i untuk mendapatkan bekal menuju kehidupan akhirat, karena hidup tidak hanya di dunia.

Penulis menceritakan bukan semata-mata lebih baik, bukan karena memiliki pengalaman tentang cinta , bukan yang memiliki banyak ilmu , namun penulis adalah manusia biasa yang tidak lepas dari dosa, yang masih fakir ilmu, dan hanya bisa mengingatkan terutama untuk saya sendiri lewat tulisan. karena kewajiban seorang muslim adalah mengingatkan, tidak mau? terus kita ingatkan, masih enggan? itu sudah urusan Allah yang Maha Membolak-balikkan hati

semoga kita sama-sama dimudahkan langkahnya menuju Jalan Yang Lurus dan selalu diberikan keistiqomahan oleh Allah Subhanahuwa Ta’ala
Aamiin

Permulaan senja , 27 Rabi'ul Awwal 1438 H

1482705335877

Perjalanan Hari Akhir

Kajian oleh Ustadz Armen Halim Naro (Rohimahullah)

Innal hamdalillah, nahmaduhu wa nasta’inuhu wanastaghfiruhu, wana’udzubillahi min syuru ri anfusina, wa min sayyiatina a’malinaa, man yahdillahu fala mudhillalah, wa man yudhlil falaa hadiyalah, wa asyhaduallaa ilaaha illallahu wahdahu laa syarikalah, wa asyhaduanna muhammadan ‘abduhu wa rasuuluh

Ikhwani fillah azza niyallahu waiyyakum. Diantara nikmat Allah kepada seorang hamba adalah nikmat Al-Qur’an. Diturunkannya Al-Qur’an kitab yang mulia kepada rasulullah, dimana ada petunjuk, nur (cahaya), rahmah, ada perintah dan larangan, ada ancaman dan anjuran. Dalam surah Al-Baqarah : 281 Allah berfirman,

  وَاتَّقُوْايَوْماًتَرْجُعُوْنَ فِيهِ أِلىَ اللَّهِ

Ini Menunjukkan bahwa Allah tutup peringatan tentang hari akhir dengan menyuruh kita untuk bertakwa kepada Allah, takutlah kalian pada hari dimana kalian akan kembali kepada Allah, kemudian setiap jiwa dimatikan atas apa yg ia peroleh sedangkan ia tidak akan dianiaya (dirugikan).

Ayat ini membuat gundah dan cemas orang-orang yang bertakwa kepada Allah.

Ayat ini mengingatkan kepada kita kehidupan baru yang tidak pernah dirasakan oleh kita sebelumnya. Ayat ini memiliki dua keadaan.

  1. saat ia menjemput sakaratul maut.
  2. saat berada di padang mahsyar dengan dosa atau pahala yang ia dapatkan.

Ayat ini juga mengingatkan kita akan “KEMATIAN” ketika sakaratul maut menjemput manusia. Kematian hanya satu meskipun berbilang.

Hal ini seperti seorang ibu yang baru melahirkan mengerang kesakitan, ketuban pecah, darah sudah mengalir, wajah pucat pasi, ketika kakinya mulai dingin, ketika itu suaminya mentalqinya.

Kejadian itu seperti kematian menjemput, tidak ada ucapan selain “laa ilaa ha illallah” kadang ia ingat kadang juga lupa. Sama halnya seperti orang yang sakit komplikasi, ia hanya menunggu kematian.

Mana ibadah yang ia lakukan? Mana masa mudanya? Kesehatan dan waktu luangnya?. Ia akan selalu teringat akan amalan-amalannya. Ketika seseorang keluar dari rumah, kemudian ia kecelakaan, kepalanya pecah, darah mengalir. Malaikat mulai mencabut dari kakinya.  وَاتَّقُوْايَوْماًتَرْجُعُوْنَ فِيهِ أِلىَ اللَّهِ mana kecantikan dan ketampanan? Tak ada lagi, semuanya musnah dan tidak terpikirkan kecuali amal shaleh.

Ketika mata mulai mengikuti ruh, nyawapun melihat badan ditangisi oleh kerabat dan diangkat menuju Allah azza wa jalla. Yang dominan amal shaleh maka berbau harum dan sebaliknya. Kemudian penduduk dunia mulai mengkafani, menyolati, sedangkan ruh hanya sedirian. Kemudian ia berangkat diatas keranda, berbondong-bondong ia diantarkan ke liang lahat. Dalam kesendirian, kesunyian. wal taffattissa qu bissaq (ketika kaki mulai bertemu kaki dengan kaki, betis dengan betis dialam kubur), kemudian tertimbun dengan tanah, kemudian didoakan oleh orang-orang disekitarnya.”

Setelah semua meninggalkannya, semua sudah berlalu. Tinggallah ia sendiri. Sama seperti ketika kita diciptakan , dilahirkan dari seorang ibu juga dalam kesendirian. Ia akan dimasukkan ke liang lahat dalam kesendirian. Dalam kegelapan malam tidak ada yang menyapa. Saat itu ia teringat amal yang ia perbuat di dunia. Jika ia punya amal sholeh maka Allah akan jadikan teman yang sholeh sampai hari kiamat, sebaliknya jika ia punya amal buruk, ia akan ditemani makhluk yang buruk sampai hari kiamat. Dan Allah akan perlihatkan surga bagi orang-orang yang beramal sholeh. Jika amalnya buruk maka Allah akan perlihatkan neraka yang begitu menyeramkan sampai hari kiamat dan ditiupkannya sangkakala.

Saat itu, ia Berkumpul dalam keadaan tidak berpakaian, tidak berkhitan, bahkan tidak menggunakan sandal. Mereka menengok ke kanan dan ke kiri tidak ada teman, selama ribuan tahun ia berdiri dan tidak melakukan apa-apa, sampai suatu waktu dimana kemudian Allah panggil ia dengan sebutan “wahai fulan bin fulan, kemarilah, saat ini tiba saatnya kau pertanggung jawabkan perbuatanmu selama di dunia”.  Diribuan orang, diJutaan orang, bahkan dimiliaran orang, ia dihadapakan pada semua makhluk Allah kemudian Allah mengatakan wahai fulan kebaikan apa yang telah engkau berikan kepada kami, amal sholeh apa yang engkau lakukan untuk kami , bagi orang yang baik ia akan mendapatkan kebaikan, dan bagi orang yang buruk ia juga akan mendapatkan keburukan.

Maka tertunduklah orang yang berdoa tadi dan kemudian ia berkata

“wahai Rabb aku telah sia-siakan usia mudaku, aku tinggalkan perintahmu dan melaksanakan laranganmu, kalau kau Tanya tentang mataku dan pendengaranku, ia tidak kupergunakan untuk melihat Sunnah rasulmu, ia selalu kupergunakan untuk bermaksiat, adapun mulutku aku pergunakan untuk ghibah dan namimah, tidak aku gunakan untuk membaca al-qur’an, tidak pernah bersholawat, tidak pernah brtasbih dan berdzikir, tidak untuk berdakwah dan tidak  untuk mengajak pada kebaikan, mulutku selalu dikotori dengan dunia, dengan hawa nafsu, dengan kehendak yang tak pernah habis, bahkan mencela sesama muslim, adapun tanganku ya Rabb maka aku telah meraba semua maksiat yang kau larang, aku tidak lagi meraba rambut anak fakir, aku tidak lagi memberi infaq kepada orang miskin, namun aku gunakan untuk bermaksiat, adapun kakiku tidak pernah aku langkahkan ke masjid, ke masjlis ta’lim, aku hanya hadirkan kakiku ke tempat maksiat, adapun hatiku telah aku selewengkan, yang seharusnya aku taat padamu dan sandarkan padamu, sehingga aku taat pada setan, aku taat pada akal pikiranku, aku selalu turuti manusia , bukan Engkau”

Maka Allah katakan pada manusia dengan menyuruh malaikat-Nya, wahai malaikatKu ambillah dia “hudzuhu faghulluuh” (seret dia dan angkat dia dengan besi) sesungguhnya sungguh besar kemurkaan Ku pada orang yang tidak pernah mengerti akan hakKu, maka datang malaikat menyeret seperti menyeretnya orang yang terkena kriminal, dengan skencang-kencangnya besi yang sangat panjang. Kemudian ia dilantingkan ke neraka Jahannam, terbentur dan kemudian beteriak , maka tak ada satupun yang dapat mendengarnya.

 

Bagaimana dengan orang sholeh?

Hari-harinya ia isi dengan iman, ia kemudian dipanggil. Wahai fulan bin fulan majulah kedepan, maka datanglah si fulan. Dan allah katakana wahai fulan amal sholeh apa yg telah kau perbuat, kemudian ia mengatakan

“wahai Rabbku selama aku hidup Engkaulah yang Maha Melihat, yg memperhatikan gerak-gerikku, aku jadikan kehidupanku , sholatku, matiku hanya untuk Mu . penyerahan diri kepada Engkau, aku taati semua perintahMu,menjauhi semua larangan-Mu, aku berserah diri pada Mu dengan sebenar-benarnya. Adapun kakiku ssungguhnya aku telah mealangkahkan pada tempat-tempat kebaikan , aku langkahkan kakiku ke masjid diantara hambamu yang memanggil panggilan adzan, diantara kelelapan hambamu, dan diantara yang lain tertidur. adapun mulutku telah dipenuhi dengan membaca qur’an, dengan berdzikir, dengan berdakwah dan mengajak pada kebaikan, tidak ada ghibah dan namimah, tidak ada syirik dan kekufuran, aku jadikan tazkiyah. Adapaun mataku, aku gunakan untuk mengaliri tangis hanya untukMu. Aku gunakan hanya untuk hari ini, keletihan dan kesedihan yang aku lakukan di dunia adalah untuk hari ini, adapun tanganku, maka sudah berapakali bersabar untuk selalu mempertahankan diri berlama-lama bersujud pada Mu, dan mengangkat ke atas langit dipenuhi munajat, doa, rasa takut, dan harapan serta kecemasan,  ia tidak mengangkat kecuali mengangkat namaMu, tidak ia gunakan kecuali bersujud dan itu sangat lama. Adapun telingaku, ia tidak pernah mendengar hal-hal buruk, aku ajarkan ia untuk medengarkan hadis-hadis nabiMu dan Qur’anMu. Tidak aku perdengarkan musik-musik syaiton, aku peruntukkan untuk dirimu ya Rabb. Adapun hati ini, aku telah serahkan padaMu, aku ajrkan dia bercinta dan memiliki rasa harap hanya kpadaMu, dia telah hanif dan muslim serta menyerahkan padaMu.”

Ketika itu disaksikanlah oleh malaikat, Allah menyuruh malaikat untuk memaskukkan dan memperunttukkan ia pada orang-orang yang bersih sebagaimana orang-orang bertakwa, dengan rumah yang inda yaitu surga. Saat itu berkatalah ia kepada jiwanya , “selamat jiwa karena engkau telah berletih di dunia, telah merasakan kesedihan di dunia. Ini adalah hari dimana engkau berbahagia, karena sebelumnya Engkau menangis karena bersabar. Selamat engkau “tangan” yang engkau bersabar untuk tidak berbuat maksiat, sleamat engau “kaki” yg tdak pernah melangkah kecuali diperuntukkan pada Allah.

Dalam surah (Az-Zalzalah : 7-8)

“maka barangsiapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat balasannya, dan barangsiapa mengerjakan kejahatan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya.”

Rasulullah bersabda “sesungguhnya seorang hamba didatangkan kepada Allah yang ia tidak pernah merasakan kekusahan, tidak pernah menangis, tidak pernah sesak dadanya kadang beribadah kpda allah, kemudian ia dimasukkan ke dalam neraka satu celupan, Allah berkata “hambaku apakah engkau pernah merasakan kenikmatan sedikitpun setelah celupan ini? Tidak demi Allah aku tidak pernah merasakan kenikmatan itu. Kemudian didataangkan pula orang yang penuh penderitaan selama hidupnya, dan masuk dalam surga. Apakah berlalu kesedihean di dalam hidupmu sedikitpun? Tidak ya Rabb, sesungguhnya surga merupakan kesedihan yang ada di dunia.”

Maka bertakwalah kepada Allah. Persiapkan hari itu, sesungguhnya dunia dan akhirat adalah berlawanan. Sungguh orang yg tertawa didunia adalah orang yg menangis di akhirat dan orang yang menangis di sunia adalah orang yang tertawa di akhirat”

Persiapkanlah , sesungguhnya surga tidak akan pernah diperoleh kecuali dengan kesedihan dan keletihan. Maka beribadahlah dan tentukan tujuan. Sesungguhnya surga itu luas seluas langit dan bumi yang diperuntukkan hanya pada orang-orang yang bertakwa. Bersegeralah memohon ampunan kepada Allah. Sesungguhnya dunia ini adalah perkampungan untuk beramal, dan akhirat adalah ladang untuk memanennya.

Rasulullah bersabda

Sesungguhnya orang yang takut tentu dia akan menyegerakan untuk pulang, ia tidak akan berlehaleha ditengah jalan, tentu dai akan memperiapkan untuk hari kepulangan. Dan berhati-hatilah suatu hari dimana kita akan kembali pada Allah Azza Wajalla.

Mudah-mudahan Allah mudahkan kita untuk beribadah, mengangkat ubun-ubun kita untuk selalu dan bersegera menuju pada ketaatan.

Dramaga, 9 Mei 2016 19:10

Taman-Taman Surga

25 Oktober, 2016 ; 20.41

Oleh : Ustadz Nuzul Dzikri, Lc

Sebuah hadits yang dikeluarkan oleh Imam Tirmidzi dalam kitab sunannya nabi besabda

“jika kalian melewati taman2 surga, maka singgahlan dalam taman tersebut, duduklah sejenak dan berekreasilah”

Ini perintah mengejutkan. Kalau perintah sholat dan puasa sudah biasa. Dalam hadits ini nabi memerintahkan kita untuk berekreasi. Rekreasi identik dengan kesenangan, kebahagiaan. Hal ini direspon baik oleh sahabat, dan mereka bertanya “wahai Rasulullah, dimana dan seperti apa taman-taman surge?” Nabi menjawab “yang dimaksud adalah halaqoh dzikir. Maksudnya adalah majlis yang mengkaji apa yang diharamkan dan dihalalkan oleh Allah, atau maksudnya adalah majlis-majlis ilmu”

Maka, bersyukrlah saat ini kita sedang duduk dalam taman-taman surga. Karena masih banyak orang lain yang menggunakan waktunya untuk mudik, pergi ke pariwasata , dll”

“Barangsiapa beramal sholeh baik laki2 maupun wanita, dan ia beriman kepada Allah, maka Allah akan anugrahkan kehidupan yang bahagia untuk dirinya” (An-Nahl : 90)

Inilah pesona majlis ilmu yang saat ini kita berada di dalamnya. Taman-taman ini memiliki banyak keutamaan, nabi bersabda “sesungguhnya orang alim, maka maklhuk2 Allah di langit maupun di bumi beristighfarkepada kita” taman ini menawarkan peningkatan iman, tingginya derajat kalau kita mempelajari dan mengamalkan Al-Qur’an dan Hadits

  • Taman ini menawarkan kebaikan “ barangsiapa yang Allah inginkan kebaikan maka allah akan pahamkan dia terhadap ilmu agamanya, dan memahami ilmu harus belajar, dan duduk di Majlis Ta’lim
  • Taman ini menawarkan pahala ibadah haji,

“barangsiaa yg berjalan ke sebuah masjid atau MT maka tidak ada motif kecuali mempelajari dan mengajarkan Al-Qur’an dan Hadits, maka apa yg ia dapatkan? ia akan medapatkan pahala ibadah haji dengan haji yang sempurna”

  • Taman ini begitu mempesona, sangat murah dan bergelimang pahala serta istimewa.

Namun, Kalau kita tidak hati2, maka pesona itu hilang dan memudar satu per satu. Kalau kita tidak cerdas maka Majlis ilmu tersebut tidak ada manfaatnya untuk kita. Dan ini real dan terjadi.

Para ulama memberikan nasehat bagaimana taman-taman surga itu tidak memudar.

Kiat-kiat :

Ada hal yang harus dilakukan sebelum berangkat ke taman-taman surga sebelum mempelajari Al-Quran dan hadits.

  • Membersihkan hati dari seluruh noda-nodanya. Riya’, sum’ah, Tidak ada sombong, hasad, dada yg sempit , susah memafkan orang, pemarah, dan penyakit hati lainnya. Inilah yang harus dibersihkan sebelum ke majlis ilmu tanpa noda sedikitpun. Dalam Surah Al-Muddatstsir ayat 1-4, nilai sejarahnya  adalah mengangkat Nabi Muhammad sebagai seorang rasul. sedangkan surah Al-‘Alaq, Nabi Muhammad diangkat sebagai seorang Nabi.
  • Ilmu dan hati itu tidak bisa dipisahkan. Karena int dari ilmu adalah ibadah hati. Bagaimana keikhlasan kita, ketawadhu’an, hati kita mneyikapi saudara kita, rasa takut kita kepada Allah. Bukan hanya sekedar menghafal juz 28, 29, atau 30 juz. Kalau hanya untuk menghafal, maka orang munafik juga bisa.
  • Inti ilmu adalah sedalam apa cinta kita kpd Allah, setakut apa kita dg Allah setelah kita belajar. Surah Fatir “sesungguhnya yang takut kepada Allah hanyalah ulama” imam ahmad mengatakan “inti ilmu adalah takut kpd Allah” bukan hanya sekedar retorika, bukan sekedar orasi yang menggebu2 tp ketika turun dari mimbar ia tidak mengenal Allah, inti ilmu itu bagaimana kita menata hati.
  • Kunci sukses ulama terdahulu adalah menata hati sebelum pergi untuk menuntut ilmu dan setelah mereka pulang dari majlis-majlis ilmu. Inilah kunci sukses mengapa Muhammad Bin Ismail menjadi Bukhori, Mengapa Muhammad bin Indris menjadi Asy-syafi’I dan Ahmad bin Abdil Halim menjadi Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, mengapa Yahya Bin Syarof  Bin Muri menjadi Imam An-Nawawi.

Intinya adalah bagaimana kebeningan hati mereka tanpa mengesampingkan kedudukan sholat mereka. “Ketahuilah di dalam jasad manusia ada segumpal daging, jika baik maka baik seluruh anggota badannya, jika buruk maka seluruhnya akan buruk dan segumpal daging itu adalah hati ” artinya kalau hati baik, maka sholat, dzikir, dan akhlak akan baik. Kalau titik berat kita adalah penampilan dan busana maka ini bukan inti. Karena kalau hati baik maka penampilan akan baik.

Perbandingan-perbandingan ulama-ulama terdahulu dengan sekarang adalah, kalau ulama terdahulu mengahbiskan waktu mereka adalah untuk menata hati, sedangkan ulama sekarang adalah mengahbiskan waktu kita untuk pelaku-pelaku dzahir. Islam : amalan2 Dzhir . iman : amalan-amalan batin , ihsan : kombinasi .

Amalan yang paling berat adalah keikhlasan, Keikhlasan-keikhlasan itu berat. Allah tidak akan menerima amalan kita kalau kita tidak ikhlas karena Allah, yang kedua adalah tawaddhu’. Kita harus merasa rendah dihadapan ilmu, dihadapan Al-Qur’an, dihadapan hatits-hadits rasulullah. Semakin kita belajar, semakin merasa hina dan bodoh kita. Semakin kita belajar, semakin kita merasa bahwa kita memiliki banyak dosa. Hati seorang penuntut ilmu sejati adalah semakin kecil. Dan inilah yang harus ditekankan.

Pesan untuk menuntut ilmu : selalulah merasa diri ini kecil dan bodoh ketika memahami Firman Allah dan Hadits Rasulullah.

Dan fitnah yang pertama dalam alam semesta adalah :

fitnah ilmu, ketika iblis menolak bersujud kepada adam. Karena merasa iblis diciptakan dari api sedangkan adam diciptakan dari tanah. Allah yang iblis rendahkan

(Na’udzubillahi mindzalik).

 

Allahu a’lam